Profil Paroki Tanjung
Keuskupan Ketapang, Kalimantan Barat.
Sejarah Paroki Tanjung
Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung yang berada di bawah naungan Keuskupan Ketapang memiliki Santa Maria Assumpta sebagai pelindung utamanya, di mana hari pesta pelindung tersebut senantiasa diperingati setiap tanggal 15 Agustus. Perjalanan iman Katolik di wilayah Tanjung dirintis sejak tahun 1918 oleh Tahir, seorang Guru Sekolah Rakyat asal Serengkah, yang membagikan ajaran agama kepada para tokoh penggerak awal setempat seperti Tembirik, Hadir, Manggar, dan Barun. Berkat semangat umat yang kian bertumbuh, pendirian Kapela dan Rumah Misi pertama dilaksanakan secara gotong royong hingga diresmikan serta diberkati pada tahun 1922 oleh Pastor Leo De Jong, OFM Cap. Perkembangan ini berlanjut hingga bulan Januari 1949 ketika Tanjung ditetapkan secara resmi sebagai Daerah Misi terpisah oleh Pastor Rafael Kleyne, CP, dengan menugaskan Pastor Basilius Van De Bom, CP sebagai penanggung jawab sekaligus memulainya pencatatan buku baptis (Liber Baptizatorum) di lokasi tersebut. Seiring bertambahnya jemaat, pembangunan gedung gereja baru direalisasikan dan kemudian ditahbiskan pada bulan April 1956 oleh Mgr. Gabriel W. Sillekens, CP, di mana peristiwa bersejarah ini senantiasa dikenang oleh umat sebagai tonggak berdirinya paroki.
📸 Arsip Dokumentasi Paroki
Perjalanan Iman & Karya Pelayanan
Dalam sejarah perkembangannya, Paroki Santa Maria Assumpta Tanjung yang semula mencakup wilayah misi sangat luas di Keuskupan Ketapang kini telah berhasil melahirkan beberapa paroki pemekaran guna meningkatkan efektivitas pelayanan pastoral. Pemekaran wilayah ini ditandai dengan hadirnya Paroki Kanak-Kanak Yesus Marau pada tahun 1997, yang kemudian disusul oleh peresmian Paroki Santo Paulus Terusan dan Paroki Maria Ratu Rosari Riam Kota oleh Mgr. Pius Riana Prapdi pada akhir Desember 2023. Selain pemekaran daerah penggembalaan, Gereja Katolik di Tanjung juga memegang peranan krusial dalam pembangunan masyarakat melalui berbagai karya pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, serta pengembangan sarana fisik. Pada bidang pendidikan, rekam jejak pelayanan diawali dari pembukaan Sekolah Misi di Terusan pada tahun 1948, Setipayan pada tahun 1950, dan Karangan pada tahun 1953, hingga kini berlanjut melalui pengelolaan SD Pangudi Luhur Setipayan oleh para Bruder FIC. Pendidikan tingkat menengah turut dibangun lewat pendirian SMP Pangudi Luhur Don Bosco Tanjung yang diinisiasi sejak tahun 1976 oleh A. Sartono, B.A. bersama Bruder Yohanes De Deo FIC atas arahan Uskup Gabriel W. Sillekens, CP. Selain itu, Suster-Suster Ordo Santo Agustinus (OSA) memegang peranan penting dalam mengelola pendidikan usia dini melalui TK Swadaya Tanjung yang berdiri sejak tahun 1992/1993, serta menyediakan fasilitas Asrama Putri Sion mendampingi Asrama Putra Santo Sebastian milik Bruder FIC demi menampung para pelajar dari wilayah pedalaman. Pelayanan di sektor kesehatan dan pembangunan fisik paroki juga memiliki catatan sejarah yang panjang serta berkesinambungan. Karya kesehatan di wilayah ini dirintis sejak tahun 1967 oleh Suster-suster Biarawati Karya Kesehatan (BKK) melalui pendirian Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) Mutiara Tanjung beserta pelatihan bidan kampung, sebelum akhirnya diserahterimakan secara resmi kepada Suster-Suster OSA pada tanggal 30 Oktober 1990. Dalam hal pengembangan rohani dan infrastruktur, Pastor Ignasius Made Sukartia, Pr bersama umat memprakarsai pembelian lahan Bukit Semangkaq pada tahun 1988 untuk mendirikan Gua Maria Bukit Sion yang kini menjadi pusat devosi dan ziarah. Menjawab tantangan pertumbuhan jumlah jemaat yang kian pesat, Dewan Pastoral Paroki bersama seluruh umat kini tengah merealisasikan proyek pembangunan Gedung Gereja Baru yang telah dirancang sejak tahun 2023.
Romo Pelayan Pastoral
Romo Krisna
Pastor Paroki
Periode Tugas: 2025-sekarang